Sabtu, 28 Agustus 2010

TIDAK SELALU BERWUJUD BUNGA...

  (Postingan lama, dari tetangga sebelah. tapi masih up to date untuk me-refresh cinta kita, terutama kepada pasangan kita)

SEMOGA BERMANFAAT

Tidak selalu berwujud bunga....





Suami saya adalah seorang insinyur, saya mencintai sifatnya yang alami dan

saya menyukai perasaan hangat yang muncul di hati saya ketika saya

bersandar dibahunya yang bidang. Tiga tahun dalam masa perkenalan, dan dua

tahun dalam masa pernikahan, saya harus akui, bahwa saya mulai merasa

lelah, alasan-2 saya mencintainya dulu telah berubah menjadi sesuatu yang

menjemukan.



Saya seorang wanita yang sentimentil dan benar-2 sensitif serta

berperasaan halus. Saya merindukan saat-saat romantis seperti seorang anak

yang menginginkan permen.



Tetapi semua itu tidak pernah saya dapatkan. Suami saya jauh berbeda dari

yang saya harapkan. Rasa sensitif-nya kurang. Dan ketidakmampuannya dalam

menciptakan suasana yang romantis dalam pernikahan kami telah mementahkan

semua harapan saya akan cinta yang ideal.



Suatu hari, saya beranikan diri untuk mengatakan keputusan saya kepadanya,

bahwa saya menginginkan perceraian."Mengapa?", dia bertanya dengan

terkejut. "Saya lelah, kamu tidak pernah bisa memberikan cinta yang saya

inginkan". Dia terdiam dan termenung sepanjang malam di depan komputernya,

tampak seolah-olah sedang mengerjakan sesuatu, padahal tidak.



Kekecewaan saya semakin bertambah, seorang pria yang bahkan tidak dapat

mengekspresikan perasaannya, apalagi yang bisa saya harapkan darinya? Dan

akhirnya dia bertanya, "Apa yang dapat saya lakukan untuk merubah

pikiranmu?".



Saya menatap matanya dalam-dalam dan menjawab dengan pelan, "Saya punya

pertanyaan, jika kau dapat menemukan jawabannya di dalam hati saya, saya

akan merubah pikiran saya: Seandainya, saya menyukai setangkai bunga indah

yang ada di tebing gunung dan kita berdua tahu jika kamu memanjat gunung

itu, kamu akan mati. Apakah kamu akan melakukannya untuk saya?"





Dia termenung dan akhirnya berkata, "Saya akan memberikan jawabannya

besok." Hati saya langsung gundah mendengar responnya.





Keesokan paginya, dia tidak ada dirumah, dan saya menemukan selembar

kertas dengan oret-2an tangannya dibawah sebuah gelas yang berisi susu

hangat yang bertuliskan....





"Sayang, saya tidak akan mengambil bunga itu untukmu, tetapi ijinkan saya

untuk menjelaskan alasannya."





Kalimat pertama ini menghancurkan hati saya. Saya melanjutkan untuk

membacanya.



"Kamu bisa mengetik di komputer dan selalu mengacaukan program diPC-nya

dan akhirnya menangis di depan monitor, saya harus memberikan jari-2 saya

supaya bisa membantumu dan memperbaiki programnya."



"Kamu selalu lupa membawa kunci rumah ketika kamu keluar rumah, dan saya

harus memberikan kaki saya supaya bisa mendobrak pintu, dan membukakan

pintu untukmu ketika pulang.".



"Kamu suka jalan-2 ke luar kota tetapi selalu nyasar di tempat-tempat baru

yang kamu kunjungi, saya harus menunggu di rumah agar bisa memberikan mata

saya untuk mengarahkanmu."



"Kamu selalu pegal-2 pada waktu 'teman baikmu' datang setiap bulannya, dan

saya harus memberikan tangan saya untuk memijat kakimu yang pegal."



"Kamu senang diam di rumah, dan saya selalu kuatir kamu akan menjadi

'aneh'. Dan harus membelikan sesuatu yang dapat menghiburmu di rumah atau

meminjamkan lidahku untuk menceritakan hal-hal lucu yang aku alami."



"Kamu selalu menatap komputermu, membaca buku dan itu tidak baik untuk

kesehatan matamu, saya harus menjaga mata saya agar ketika kita tua nanti,

saya masih dapat menolong mengguntingkan kukumu dan mencabuti ubanmu."



"Tanganku akan memegang tanganmu, membimbingmu menelusuri pantai,

menikmati matahari pagi dan pasir yang indah. Menceritakan warna-2 bunga

yang bersinar dan indah seperti cantiknya wajahmu".



"Tetapi sayangku, saya tidak akan mengambil bunga itu untuk mati. Karena,

saya tidak sanggup melihat air matamu mengalir menangisi kematianku."



"Sayangku, saya tahu, ada banyak orang yang bisa mencintaimu lebih dari

saya mencintaimu."



"Untuk itu sayang, jika semua yang telah diberikan tanganku, kakiku,

mataku, tidak cukup bagimu, aku tidak bisa menahan dirimu mencari tangan,

kaki, dan mata lain yang dapat membahagiakanmu."



Air mata saya jatuh ke atas tulisannya dan membuat tintanya menjadi kabur,

tetapi saya tetap berusaha untuk membacanya.



"Dan sekarang, sayangku, kamu telah selasai membaca jawaban saya.



Jika kamu puas dengan semua jawaban ini, dan tetap menginginkanku untuk

tinggal di rumah ini, tolong bukakan pintu rumah kita, saya sekarang

sedang berdiri disana menunggu jawabanmu."



"Jika kamu tidak puas, sayangku, biarkan aku masuk untuk membereskan

barang-barangku, dan aku tidak akan mempersulit hidupmu.



Percayalah, bahagiaku bila kau bahagia.".



Saya segera berlari membuka pintu dan melihatnya berdiri di depan pintu

dengan wajah penasaran sambil tangannya memegang susu dan roti kesukaanku.



Oh, kini saya tahu, tidak ada orang yang pernah mencintai saya lebih dari

dia mencintaiku. Itulah cinta, di saat kita merasa cinta itu telah

berangsur-angsur hilang dari hati kita karena kita merasa dia tidak dapat

memberikan cinta dalam wujud yang kita inginkan, maka cinta itu

sesungguhnya telah hadir dalam wujud lain yang tidak pernah kita bayangkan

sebelumnya.





Seringkali yang kita butuhkan adalah memahami wujud cinta dari pasangan

kita, dan bukan mengharapkan wujud tertentu.



Karena cinta tidak selalu harus berwujud "bunga".

Sebuah Langkah Awal

 Perjalanan baru saja dimulai, dengan sejuta harap dan asa yang menggelayut di ruang mimpi, hati dan pikiran yang telah lama dipendam. Memulai sesuatu yang sebelumnya pernah terimpikan dalam sisa ruang memori masa kecilku.
Perjalanan baru saja dimulai, menapaki dunia maya yang penuh dengan misteri........ apakah kita akan bertemu harimau yang bisa kapan saja menerkam kita? atau menemukan harta karun yang luar biasa banyaknya????
Perjalanan baru saja dimulai, dengan nawaitu yang tulus ikhlas untuk belajar. BISMILLAH blog ini kubuka sebagai bagian dari lembaran perjalanan, dari sebuah proses panjang manusia yang hakikatnya sedang menuju kepada kematiannya......mengisi lembar-lembar harinya dengan belajar, berbagi, dan bersinergi.
Perjalanan baru saja dimulai, bagi Rasna sang pengelana................